Cari

Candrasangkala & Rarasekar

Menulis adalah menjadi abadi

Kesedihan


Di akhir tahun yang sepi, aku mengikuti detik yang berlalu. Jam tua itu masih kokoh, debu yang menempel sudah sangat pekat. Ku tiupkan udara kepadanya, ternyata malah mengaburkan mataku sendiri. Lalu aku terjatuh dan bermimpi.

Dalam mimpiku aku menggondol jam tua itu. Punggungku terasa nyeri tapi aku tak berhenti. Betapa berat mengikuti waktu. Waktu yang akan menjauhkanmu dariku. Aku berjalan, tapi tak tahu hendak kemana. Aku merindukan dirimu sampai tulang-tulangku rapuh sendiri. Linu, dan keterasingan telah lahap diserap pori-pori tubuh ini. Aku dahaga, tapi tak menemui aliran sungai. Seperti Isa yang digiring massa dengan salib kayu yang memberatkan langkahnya. Aku telah berdosa kepadamu, sebab aku tak bisa bersamamu. Maka aku pergi hanya berbekal memori; sebab tanpa itu, untuk pernah sampai ke tujuan, aku tak yakin.

Setibanya aku di tujuan, aku masih tak percaya bahwa segala derita itu tak cukup membuatmu mewujud benda. Aku sampai di tempat ini, dimana daun-daun yang tumbuh telah bermekaran kembali seperti dulu. Tak akan ku biarkan mereka gugur. Ku sirami mereka dengan apa yang tersisa ada; urin, liur atau mani.

Jam tua berdenting keras, saatnya aku bergembira. Tapi disana tak ada orang sama sekali. Aku ingin terbangun, tapi aku seperti dikutuk habis-habisan untuk terus tertidur dan merasakan berada di tujuan yang susah ku gambarakan.

Orang bilang, waktu bisa dibunuh. Maka aku mengambil batu dan menghancurkan jarum jam yang berukuran seperti kelingking tanganku. Jam itu mati, dan aku berharap akupun sama. Aku ingin membisu, sebisu-bisunya. Tapi mulutku mulai merekah, dan mataku mengedip-ngedip. Waktu masih ada, ia belum mati sama sekali.

Apakah matahari yang mengatur waktu? Aku membuat panah dengan kecepatan cahaya. Ku incar letak matahari, dan melesatlah batu-batu kokoh mengepungnya. Semoga ia terbelah dan padam.

Dan setelah padam, ia memangsa massa. Aku ini mungkin sebesar tiada. Aku akan masuk pada lubang hitam dan lebur sesungguh-sungguhnya. Daun-daun mati, memoriku perlahan pudar, dan segala mani, liur dan urin yang ku punya seketika menjadi es. Ah, bagaimana mungkin aku menjadi seperti ini.

Seharusnya aku tak pernah membunuhnya. Ia hanya akan membuatku terbunuh sendiri.

Dan yang ku sesali adalah, kau tak bisa ku bawa dalam ketiadaan, sebab akupun tak kuasa, sejatinya tak memiliki daya, sekedar mencintaimu lagi. Aku sampai pada titik bahwa aku lupa segalanya.

Lupa bahwa keinginan untuk melupakanmu, adalah cara aku yang masih mencintaimu.

(Candrasangkala, 2016)

Superstisi


Dalam superstisi, engkau menemui satu hal yang menggelikan: kucing tak boleh dekat-dekat dengan orang mati sebab ia bisa membangunkan orang itu untuk hidup kembali. Bukankah lebih baik hidup? Tak usah ada airmata dan perpisahan, bahkan kerinduan. Tapi mereka takut orang mati itu membuka mata; mungkin hendak membuka rahasia? Maka kucing-kucing yang bertanya siapa di balik peti dan keranda itu segera dipindahkan ke boks-boks di luar, tak diberi kesempatan untuk berpisah dengan tuan atau nyonyanya.

Bagaimana dengan Isa, kataku.

Ia mungkin akan diasingkan, dijebloskan ke ruangan bawah tanah dan disana ia akan menemukan serangga-serangga yang mati. Isa bisa menghidupkan orang mati untuk membuka rahasia-rahasia. Dan kehadiran Isa nanti hanyalah sebuah tanda bahwa mereka adalah generasi yang brutal, yang dijanjikan neraka belaka.

Aku ingin bertemu dengan orang-orang dulu, yang kerap percaya bahwa ada dari mereka yang bisa melesat seperti cahaya. Aku ingin merekamnya dan menyimpannya di folder-folder data. Sesekali akan ku kagumi, bila memang benar.

Aku ingin percaya, pada cerita-cerita mistis yang terjadi di kotamu. Tentang seorang peri yang memiliki banyak budak di bawah lorong-lorong bumi, di seluas samudera. Biarkan aku dibawanya ke sanubari. Mungkin saja aku dikutuk menjadi penyu tanpa cangkang sebab aku ini seorang pembangkang. Mungkin aku sebenarnya melihatnya dengan jelas, tapi akalku mengatakan aku gila.

Ada perempuan yang koma selama beberapa hari. Di ceritanya, ia dibawa Mak Lampir dan disusui di rumah-rumah pohon yang sepi dan dingin. Di sekitarannya ada banyak hutan dan hewan-hewan buas, tapi ia tak dimakan mereka sebab Mak Lampir melindunginya. Mak Lampir bilang, bahwa ia hanya ditugaskan menjaganya dan tidak membiarkannya mati.

Siapa yang menyuruhmu menjagku disini, kata perempuan itu.

Mak Lampir tertawa, enggan membuka rahasia. Tapi perempuan itu tahu bahwa Mak Lampir mendapatkan sesajen berupa ayam cemani dan darah merah babi. Ah, Mak Lampir bersekongkol dengan dukun. Perempuan itu tahu, dalam komanya, bahwa ia diguna-guna orang.

Tenang saja, kau akan ku kembalikan kepada bumi, tapi tidak sekarang, kata Mak Lampir.

Ah, hartaku akan dihabisi lewat cara ini, bisik perempuan itu pada batinnya.

Dan memang perempuan itu tidak mati; ia hidup dan kembali ceria. Aku bertanya, perpisahan macam apa yang terjadi antara kau dan Mak Lampir? Adakah semacam pesta kecil?

Aku jadi teringat mati.

Tapi kau yang membaca ini tahu, bahwa tak akan ku biarkan kucing-kucingku dimakan superstisi. Pabila aku memang mati, biarkan mereka mengendus kepergian. Biarkan mereka mengerumuni, bergantian meniduri dada.

Sebab mungkin kau tak tahu bagaimana rasanya merindukan seseorang yang kau anggap hidup, tapi ternyata tak lagi ada.

Candrasangkala (2016)

Kabut


Kabut menyerang kotaku, hingga kabur sudah pandangan. Tak ada menara yang biasa ku pandang, atau matahari di bebukitan. Yang ada hanyalah putih; seperti orang-orang yang bergerak menjejali jalanan ibu kota, meneguhkan citra bahwa putih adalah suci dan mereka adalah sekumpulan manusia tanpa benci. Mungkin ia ingin menyucikan kotaku yang hina. Memendam dosa-dosa yang diperbuat oleh manusia-manusia di malam-malam yang dingin. Cumbuan, rayuan, harapan untuk tiada.

Kabut memang hanya sementara. Tapi kehadirannya rela menyeka air mataku yang tak selesai dengan ceritanya. Setiap pagi aku menangis, entah untuk keindahan matahari, atau teringat kenangan-kenangan perih. Jauh dari tanah lahir.

Aku memandang hidupku sebagai hal yang kiranya kirana. Hidupku elok, meski sering aku menemukan mimpi-mimpiku tersandung jalanan berbelok. Dan aku berdiri, dengan lumpur yang pekat untuk terus maju lagi. Aku tak banyak peduli tentang itu. Maksudku, hidup tanpa dosa adalah omong kosong. Tapi apa itu dosa?

Semalam, mungkin saja kelelawar mengunyah habis-habisan nyamuk yang malang, dan di cerita yang lain, nyamuk-nyamuk yang keji membunuh anak-anak manusia yang kecil. Mereka tak tahu semua itu, mereka hanya butuh. Kita tahu, itu menyakitkan, tapi itu terjadi. Kita tak lebih baik; dari kita membunuh, mencaci, memperkosa hak-hak mereka yang lain. Kita suka, dan tak tahu. Kita merasa butuh untuk itu. Mungkin untuk kepuasan belaka, atau percaya bahwa dengan membenci, kita malahan masuk surga.

Bagaimana ku jelaskan padamu bahwa kebencian itu ada. Kau tak bisa pergi ke tempat-tempat ibadah memohon ampun, sedangkan setelahnya masih ada rasa-rasa memisahkan diri dari yang lain. Aku tak pernah mengerti mengapa cinta, dalam hal ini, kalah oleh kotak-kotak apartheid yang kau ciptakan. Mengapa penyembah Kristus tak boleh menyentuhmu yang menyembah hal yang lain, sedang kalian saling cinta? Lalu kau kepadaku menggerutu, bahwa bukan kau yang membuat aturan itu.

Lalu siapa, kataku.

Lalu siapa, yang membiarkan tanah itu kering sampai kelaparan ada?

Lalu siapa, yang menumpahkan air bah yang banyak, menyapu kota?

Lalu siapa, yang menjanjikanmu lalapan api, sedangkan kau pernah sekali mencintainya?

Lalu siapa, yang membuatmu bahagia selama ini?

Kabut tiba. Nasibnya untuk menenangkanmu. Ia tak berkata-kata. Mana pedulinya. Dan setelahnya ia pergi, semuanya berjalan seperti biasa. Matahari, tanpa dosa, menyembul tanpa malu. Bunga-bunga sedih berguguran. Dan adalah kita disini masuk pada kotak-kotak pemisahan yang lain.

Semoga ada waktu kelak kita semua berbaur mesra.

(Candrasangkala, 2016)

Kota


Apa yang diinginkan orang-orang itu? Berkelana riuh memenuhi jalan-jalan yang dingin, terlebih di musim ini. Dengan jas yang kusut dan raut muka yang melelahkan, mereka mengantri kereta. Seharian sudah mereka dihabisi rutinitas. Aku berada di balik jendela apartemen memerhatikan lampu-lampu kota.

Hidup harus begitu rupanya. Mereka diperbudak oleh logikanya sendiri. Tentu kau tak bisa hidup seperti kucing rumahan, yang baginya hanya ada tiga waktu berharga; tidur, makan dan main. Tidak. Biarlah hal itu dimiliki si kucing manja; mereka lebih jelita daripadamu. Mereka lebih banyak diam daripada mulutmu.

Sesampainya di rumah, adakah mereka berpasangan dan mendapatkan kecupan? Ah, kurasa hanya beberapa saja. Selebihnya bosan ingin berpisah. Kapan ia mati, kata hati perempuan itu pada lelakinya. Tapi toh ia tersenyum. Berbasa-basi bahwa harinya baik-baik saja.

Laki-laki juga kerap bosan dengan perempuannya, maka 3 jam sebelum jam tidur, ia akan pamit pada istrinya, keluar mencari angin malam. Ah, pecundang. Bilang saja ingin memangsa kupu-kupu di taman-taman ria. Bukankah lebih mudah bagi pria berkuasa? Mudah saja bagi mereka. Istrinya tak akan memeriksa bau di balik celananya. Ia terlalu gemuk, bahkan sekedar untuk membukakan pintu.

Aku, dengan segelas anggur yang memabukkan, melihat seorang lelaki dengan anjingnya berjalan-jalan di sepanjang pinggiran sungai. Aku tersenyum, bagiku itu manis. Adakah yang lebih manusiawi ketimbang seorang laki-laki di tengah cuaca dingin begini mengajak anjingnya berjalan-jalan? Semoga ia tidak menggumuli anjingnya ketika ia gila.

Di kota inilah aku tak menemui sisi-sisi terang. Segalanya memungkinkan. Aku sendiri bahkan gila. Seringkali aku tiba-tiba ingin mabuk seberat-beratnya, ingin melupakan masalah yang keji, atau sekedar ingin tidur lebih cepat. Bayanganmu sering muncul dan itu menyiksaku.

Seringkali aku menggerutu.

Aku punya cinta, sama sepertimu. Tapi tubuhku tak berbicara banyak tentang itu. Aku pergi ke taman-taman ria.

Tapi adakalanya segalanya usai. Ketika cuaca menyesap energiku dan energimu, yang ada hanyalah cuaca yang menjadikan embun itu es-es yang menggantung di dahan-dahan pohon, menumpuk di mobil-mobil kita. Dan pagi, akan berulang. Seperti usia. Segalanya dimulai lagi, cinta, kesedihan, menuangkan diri menjadi cerita, direkam jejak-jejaknya oleh kota ini.

Dan nanti, kita hanya akan tiada.

(Candrasangkala, 2016)

 

 

 

Hilang


Ada yang hilang di pagi ini. Ia adalah sebuah rasa yang dulunya hangat terhadapmu.

Seringkali aku terbangun dengan imaji yang sedih, aku membuka mata dan mencari pesan-pesanmu, siapa tahu kau menyapaku ketika aku masih tertidur lewat aplikasi-aplikasi instan yang kita punya. Tapi memang tak pernah ada, yang ada adalah bekas percakapan kita semalam sebelumnya. Dan untuk pagi yang bahagia, aku yang harus memulai menyapa.

Dan aku tak berani. Sebab mungkin itu akan membuatmu bosan. Bosan membacaku yang tak berubah. Bosan dengan kata-kata pembuka yang tak bermakna. Adakah cara lain untukmu tahu bahwa pada setiap pagi itu aku mengingatmu? Aku tak menemukan cara lain, jadi aku menunggu. Menunggu dengan sedih sampai matahari tenggelam lagi. Tapi dalam diriku ada do’a, semoga harimu itu tak kelabu.

Malam tiba dan aku tergesa-gesa ingin menanyakan semuanya. Apakah kau bahagia dengan harimu? Kau bilang, tidak terlalu. Ah, do’aku tak didengar Tuhan, kataku. Dan aku bercerita tentang hariku. Aku katakan kepadamu bahwa aku baik-baik saja. Semoga kau tak tahu aku berbohong. Sekali lagi tak ada nyali untuk memberitahumu bahwa seharian itu aku ragu. Jiwaku dibelenggu rindu terhadapmu.

Semua itu berlalu dalam masa yang lama. Kita berubah menjadi sedikit agak tua. Tolol dengan cara merasa layaknya anak muda. Aku menjadi sinis, sebab aku terlatih ditiadakan. Kau percaya bahwa semuanya tak ada masalah. Semuanya berjalan baik antara kita berdua; tak ada perang ataupun curiga. Kau hanya tak tahu apa yang terjadi di sekelumit sel-sel otakku.

Aku serupa burung yang hijrah jauh dari musim yang dingin. Kusiapkan segala daya untuk mencapai tanah yang hangat, yang mungkin menerima kegelisahanku sebelumnya akibat diserang cuaca. Semua itu tak mudah dan aku butuh waktu. Tapi di persimpangan jalan aku merasa bahwa aku harus kembali. Kembali kepada kedinginanmu lagi.

Lalu aku mampir sejenak di belantara hutan rimba. Di sana ada segerombolan raksasa dengan senapan-senapan angin yang ingin mengulitiku. Aku sembunyi, dan mencuri sedikit demi sedikit roti dari mereka. Dayaku saat ini tak begitu banyak, maka aku mematuk dahan pohon tua untukku merebah sayap. Dan di sanalah aku saat ini berada.

Andai saja mudah, dan aku tak harus berniat melupakanmu. Aku tak suka dengan cara kita yang lama. Aku berusaha, percayalah. Aku yakin bahwa cinta tak perlu dibalas, tapi ego selalu menolaknya. Aku berusaha tapi tak akan ada waktu untuk kau tahu lebih tentang semua ini. Kau tak akan cukup mengerti.

Pagi ini, ada yang hilang, dan hal itu menyakitkan. Di antara kehangatan dahan tua, aku belajar tahu mana yang lebih membuatku bahagia; kembali kepadamu, atau bergerak ke tanah itu, yang akupun sama sekali belum tahu bagaimana.

(Candrasangkala, 2016)

Orang Pertama


Pertemuan kita dimulai pada sebuah cahaya pagi yang menyengatkan mata kita sendiri. Diantara bebatuan yang terhampar di terjalnya tebing gunung tua, aku dan kau berdiri. Aku datang dengan amat cinta, dan ku labuhkan saja kebisuan ini sampai kau bertanya mengapa aku tak bernyali menyapa.

Bibirku bisu, tak bisa mengenali ucap. Aku takut menjadi salah dalam situasi seperti itu. Kau adalah cinta pertama yang tak ku sangka akan mendera jiwaku dalam waktu yang lama. Mataku buta, dan seluruh bulu kuduk yang ada mencoba meresapi kebekuan itu. Tapi perasaanku ingin memelukmu dalam masa yang tak berdetik.

Kau sempatkan diri memandangku yang kaku. Aku malu tapi lebih seringnya tak tahu malu. Kecantikanmu seperti sebuah tempat yang jauh, dikerumuni oleh bintang-bintang dengan massa yang besar, menciptakan lubang hitam yang mematikan. Aku terbawa ke dalamnya dan susah kembali. Tapi kau tak tahu itu.

Tidak pernah dalam hidupku bahwa aku bisa merasa seperti itu, merasa ingin melindungimu dan berani bertaruh apapun. Ragaku, hanya cerminan dari kering kerontangnya tulang yang dibalut oleh merah daging tapi dayanya tak habis untuk terus menarikmu. Menarikmu sampai lupa kendali. Dan dayaku sendiri menghancurkanku di akhir cerita.

Kau banyak diam, mungkin mengkhidmati ketenangan. Tapi hatiku sangat gelisah, takut bahwa kau merasa tak ingin berada disitu denganku. Tapi kegelisahan itu tak sempat ku ceritakan. Aku hanya mampu memandang langit, padahal kau tahu, aku sebenarnya ingin menciummu dalam nafas yang menderu.

Aku telah mencintaimu semenjak itu. Ada ingin yang mengangin. Ada niat yang tersirat. Oh, kau. Ku peluk saja tanpa kata. Dan belaian lembut darimu membalas kesedihan kulit-kulitku yang sepi. Hadapkan parasmu padaku. Akan ku habisi segala cinta yang tersisa. Dan kita beradu resah seketika. Kita, dua remaja yang kerdil tentang rumitnya hidup, menikmati setiap detik tentang rasa ingin tahu. Kita banyak mencoba hal baru; hal yang tidak kita sebelumnya tahu. Adalah kau dan aku kemudian tak saling beku. Kita meledak seperti bom-bom tua yang lama terkubur. Aku tahu perasaanmu, dan kau tahu perasaanku. Kita saling bercanda, siapa yang lebih menggebu. Tentu aku, tentu aku.

Semua itu dilalui dengan keceriaan sampai pada akhirnya aku dan kau sama-sama tak saling suka. Kita mulai rindu dengan makna kebebasan. Aku tak habis dengan rasa cemburuku, begitu juga kau. Andai saja ada waktu untuk kita bertukar tubuh. Kau akan tahu bahwa kemanapun aku pergi, dengan siapapun aku berjalan, kau adalah imaji yang telah diserap olehnya. Tubuhku mengenangmu sepanjang waktu. Dan akupun perlu tahu, tubuhmu juga mengingatku.

Dan kita sekali lagi berada di tebing yang sama, namun kali ini kita disini untuk senja. Senja, selalu menceritakan tentang waktu yang hendak selesai. Kita bergenggaman, mungkin sudah lelah dengan terik sepanjang waktu.

Yang ku sesali adalah aku tak sungguh-sungguh menciptakan mimpi-mimpi mudaku. Aku tak melindungimu. Aku tak pernah membacamu dengan seluruh pemahaman. Aku tak berbuat baik.

Kita tak berhasil, tapi itu bukan salahmu. Aku yang sudah salah kaprah. Begitu banyak yang ku pelajari darimu. AKu belajar bahwa tak ada salahnya bersikap jujur. Itulah aku yang kini kau kenang. Aku tak akan menghabiskan waktu dalam berpura-pura. Aku telah mencintaimu dengan penuh arti, tapi sikapku banyak yang tak berarti.

Sementara kini, aku terdampar di musim gugur sendiri. Aku rindu menemuimu. Bukan untuk menyakiti atau mempersulit keadaan. Aku hanya rindu mengajakmu ke tebing, dan tak ada salahnya kita bertukar cerita tentang apa yang sudah dan akan kita lalui tanpa semua yang ada di masa lalu. Kau mungkin keberatan untuk itu. Tapi aku tahu, kau pun ingin waktu yang sama. Sementara musim akan berputar membawa kita pada kedinginan yang luar biasa, kita bisa kembali pada rasa bahagia. Kau dengan dunia kecilmu, aku dengan dunia tanpamu.

-Candrasangkala-

Pertemuan


Musim gugur tiba, daun-daun mulai menyepi sendiri. Jalanan menjadi sepi, orang-orang mulai muak pergi keluar, cuaca terlalu dingin. Aku mengempit dua buah roti kering yang ku beli untuk sarapan pagi. Di sepanjang jalan itu, aku terhanyut oleh kenangan-kenangan lalu; betapa sepanjang jalanan yang ku lalui ini telah menyimpan jejak-jejak yang absurd antara kita dulu. 

Aku terus berjalan melewati taman-taman kosong tanpa pengunjung. Warna daun-daun berubah satu sama lain, tapi fikirku tentangmu, tak. Mungkin aku harus dibasmi seribu musim yang menghancurkan, tapi tetap saja semua itu tak pernah menjadi nihil. Ada burung-burung yang bertengger meminta roti. Tak ku hiraukan.

Tak ada musik. Hanya ada semilir angin. Meski aku sangat merindukan denting tertinggi dari sebuah piano tua milikmu. Kau kerap memintaku berdansa pada lagu yang kau ciptakan sendiri. Aku berdansa menuruti, dan akhirnya yang ada adalah bayangan gelap tanpa wujud yang tak bisa ku serap lagi wanginya.

Aku tiba di rumahku. Ku siapkan dua piring untuk kita pagi ini. Aku belah tepian-tepian roti itu, aku tahu kau tak suka. Aku duduk di samping jendela, dengan malas aku mencicipi semuanya. Aku memejamkan mata, berharap kau segera ada. Dan semakin aku tenggelam pada waktu, kau tiba dengan senyum ramah, jemarimu menggenggam roti-roti itu. Tapi kau tak berbahasa. Aku resapi kesepian tentang dirimu.

Yang bisa ku lakukan adalah merasa. Merasa seolah kau terus ada.

Betapa memalukan! Sejauh ini waktu dan jarak telah berlalu, tapi perasaanku kepadamu seperti benalu. Ia terus menghabisi. Tak pernah merasa penuh terisi.

Mataku masih terpejam dan meresapi. Aku tiba di Surga, dimana aku bisa menemuimu. Aku berbasa-basi pada Tuhan agar aku bisa menjengukmu sesekali. Aku tahu, tak mungkin ada waktu untukku menghabiskan waktu disana; aku selalu berdosa kepada diriku sendiri yang susah lupa. Tapi Tuhan maha baik, maka aku boleh berkunjung sesekali sampai petir dan cahaya menjatuhkanku kembali ke Bumi, ke tempatku berdelusi.

Bidadari memandangku sengit, sebab aku tak membawa apa-apa disana. Do’a pun aku tak punya. Aku hanya ingin menemuimu, memberikan apa yang sudah kau tinggalkan di hidupku yang kelam. Aku tak sanggup. Dan kau harus percaya.

Aku memandangmu bahagia, airmata malu-malu jatuh tak bisa ku tahan. Dan kau tersenyum kecil melambai tangan. Aku berjalan, tapi seperti melayang. Aku tak pernah sampai. Aku membeku. Kau ucap, biarlah kau disana tak perlu mengerti. Aku pun tak pernah mengerti tentang rencana dan misteri. Kita tak sempat abadi. Kita terpisah sebab itu jalannya. Aku kepadamu hanya kesementaraan. Hidup memang sementara. 

Tak lama aku sudah ada disini, di meja tua dengan roti-roti yang tak habis.

Dan ku buka lagi mataku yang sedih. Piring itu masih tak terjamah. Helaan nafasku seperti berpura-pura. Aku seperti pura-pura hidup. Tapi aku juga seperti pura-pura mati. Matahari membuka tirai langit, dan aku seperti boleh bahagia kembali. Dengan lirih yang ada, aku berani bersumpah bahwa kau kepadaku adalah keabadiaan.

Sebab itulah, pertemuan denganmu tak bisa berlalu melewati batas waktu. Cukup sekali itu dan aku hancur karenanya.

-candrasangkala-

 

 

 

 

 

Do’a


Orang-orang berdo’a pada malam yang hening. Hingar-bingar keramaianpun dijauhi, dan mereka lebih memilih tempat yang dianggap suci. Sunyi dan sepi. Ada yang berdiri, ada yang duduk mengiba nyeri. Mulut-mulut itu komat-kamit, yang lain memejam mata tanpa terdengar suara; hanya nafas yang berjalan tenang dihirup hidungnya, membaur dengan kesedihan yang tak terlihat.

Aku tidak apa dengan ritual do’a. Tapi aku melihat ada yang aneh dengannya.

Mengapa do’a harus diatur adanya? Ketika kau hendak makan, ucapan do’anya sudah ditentukan berbeda-beda. Tuhan seolah haus bahasa. Tangan kita harus dipanjatkan. Tuhan seolah haus gerak tubuh engkau. Ketika aku bepergian, aku melihat di buku-buku panduan ada beragam do’a dari berbagai agama. Intinya satu, meminta keselamatan, tapi apabila kau seorang hindu, maka yang kau baca adalah do’a orang hindu. Tapi terkadang ku baca saja segala do’a dari semuanya; aku lah yang haus bahasa. Tentu saja aku hanya menguatkan diri agar moda yang ku tumpangi tak membuatku ketakutan setengah mati.

Berdo’a saja kita tak bebas, masih berbatas. Aku dulu terlalu kecil untuk menuruti para guru; anak-anak seusiaku menghafal ratusan do’a berbahasa arab, yang mana itu bukan bahasa ibu kami. Susah payah kami mengucap demi nilai hafalan yang sempurna. Aku berhadapan dengan temanku barang satu jam, ia mengujiku dan aku mengujinya. Lalu kini aku bertanya, apakah Tuhanku hanya mau mendengar bahasa tertentu? Tak bisakah IA mengerti kedipan mataku, tarian tubuhku, atau isyarat lainnya, seperti otot-ototku yang tegang sebab ketakutanku akan sesuatu? Tapi guruku tak mungkin memberiku nilai cukup apabila gaya berdo’aku sebatas kedip-kedipan, atau tari-tarian; ternyata guruku lah yang hanya mau aku berbahasa tertentu.

Pernah suatu waktu ada sebuah aliran yang melakukan ibadahnya dengan berbahasakan indonesia, lalu dikecam dan dibubarkan. Tentu saja bagiku itu tak apa. Tuhan mungkin mengerti lebih jauh dari apa yang mereka kira tentang pendapat Tuhan itu sendiri. Tapi pertanyaanku selanjutnya, sampaikah do’a itu kepada tujuan?

Atau barangkali do’a itu mewujud menjadi keyakinan dan tanpa kita fahami; kitalah yang menjadikannya terjadi.

-candrasangkala-

Sawah


Hijau daun padi menyalami mataku yang penat akan jauhnya perjalanan ini. Sebelumnya, kereta melaju cepat, melewati batas-batas kampung satu dengan yang lainnya. Tetiba ia berhenti, di tepian sawah-sawah yang sepi. Aku lekas membuka pintu meloncat pada sekumpulan kerikil penopang rel itu. Seketika itu aku merasa dicumbu. Alam memang seliar bayangan, sawah yang asri menghampar bertepi.

Langit sore itu menggenangkan warna-warna aneh. Jingga dan sisa-sisa biru ada di situ. Tetapi hijau bagiku akan selalu memukau, seperti engkau. Burung-burung kecil nakal mencuri padi, untung saja tak ada petani. Petani akan menggoyangkan orang-orangan sawah, dan burung-burung itu lalu lalang kewalahan. Andai burung-burung tahu bahwa itu palsu.

Seperti kita disini dibohongi. Aku bahkan tidak tahu lagi apakah kebenaran yang diyakini adalah kebenaran itu sendiri? Betapa mudah menanamkan ilusi pada otak-otak yang sebagian besarnya berimajinasi. Seperti begini; ketika aku berbicara denganmu, aku berbicara dengan akal sehatku, ku gunakan segala indera untuk mencerna dan memahamimu. Tetapi setelahnya engkau pergi dan aku seperti kecanduan, otakku mengimaji dirimu. Ku bayangkan segala hal baik dan buruk yang pernah atau kelak terjadi. Sebab ini sudah menjadi kenyataan bahwa kita lebih sering menjelajahi kemayaan – terlampau jauh dari kenyataan. Seperti burung yang dibodohi, kita membodohi diri sendiri.

“Sebagian dari kita tidak semuanya berakal sehat”, kataku. “Ceritakanlah olehmu tentang dongeng-dongeng ksatria yang bisa terbang dan hilang; ksatria yang hadir untuk merengkuh hak-hak orang malang. Mereka yang merasa tak aman jiwanya akan mencari perlindungan dengan meyakini keberadaan si ksatria”.

“Kau benar, tetapi mengapa kau anggap bahwa itu tidak sehat? Apa definisimu tentang sehat?”

“Sehat itu sebuah kerumitan. Bila memang alam berencana, pastilah ia menciptakan sayap untuk kita terbang, bukan sekedar membayangkan ada ksatria yang bisa segalanya. Dengan begitu ksatria itu adalah diri kita sendiri, bukan yang lain. Kita mengalami sesuatu sesuai dengan porsi indera yang ada. Apa yang ada pada tubuh kita ini sudah sempurna, sesuai dengan tugas otak itu sendiri”.

“Tapi apa itu sehat? Aku masih belum mengerti!”

“Apa yang kita rasa dan alami, adalah kenyataan. Bila kita memiliki imaji yang lebih, bahkan tentang keyakinan kita akan ksatria itu, maka biarlah ia menjadi mimpimu sendiri (orang-orang lebih familiar dengan istilah pengalaman spiritual). Kemayaanmu. Akupun memiliki segudang imaji. Tapi lihatlah olehmu, orang sepertiku dicocoki keyakinan yang sama. Aku dipaksa untuk mempercayai ksatria yang hidup di imaji mereka, bukan di imajiku. Padahal aku tahu, mereka ini brengsek dan tak tahu menahu tentang kebenaran si ksatria. Itulah yang menurutku mereka tidak sehat, atau tidak bermain sehat”.

“Kau seorang materialis. Jadi hanya apa yang bisa kau alami saja yang akan kau percayai, bukan begitu?”.

“Kira-kira begitulah. Tetapi sudah ku katakan kepadamu bahwa aku percaya mimpi; ia alamku yang lain dan aku tak harus membuat seluruh dunia mempercayai itu. Di mimpiku aku seperti burung camar, indah menyebar. Pantai menjadi kepulanganku dari berburu seharian”.

“Dalam mimpiku aku seorang peri”.

“Untukmu aku berani gila dengan mempercayai”.

“Kau begitu gombal. Aku belum selesai dengan ucapanku”.

“Mungkinkah kau masih percaya adanya ksatria itu?”.

“Tentu. Kau tidak?”.

“Entahlah. Sudah begitu lama hidupku disumpal hal begitu. Kau tahu, ketika aku hendak lari dari kepercayaanku, aku seperti disengat listrik. Rasanya susah sekali, sampai hendak bunuh diri”.

“Kau berlebihan”.

“Dan kau cantik sekali”.

Klakson kereta berbunyi, tanda perhentian usai, penumpang tergesa naik. Sementara padi-padi melambai ditampar angin semilir sore hari. Orang-orang di dalam kereta menatap kepada keteduhan yang ditawarkan sehalaman hijau ini. Aku menerka bahwa itu sebagai pelipur lara yang sembunyi. Hidup di kota besar serasa jauh dari kearifan. Segalanya seperti rekayasa; kau lihat saja mata mereka begitu berbusa-busa. Kodok-kodok berlarian, semut-semut merangkak masuk di lubang-lubang pematang. Aku seketika tenang.

-candrasangkala-

WordPress.com.

Atas ↑