Cari

Candrasangkala & Rarasekar

Menulis adalah menjadi abadi

Elang


Ada yang cemburu buta. Kali ini aku serupa elang yang menyergap ular berbisa. Dalam cakarnya, daging-daging​ ular itu terbelah. Tapi sebelum kematiannya, ia mematuk kaki si elang. Bisa itu merambat ke jantung burung malang. Tapi paruhnya terlalu bernafsu; maka habislah si ular tercabik.

Ada yang tidak menerima kenyataan pahit. Bahwa elang sepertiku harus bertaruh nyawa menghabisimu. Aku tergila-gila atas dirimu. Sisik-sisik dari masa lalumu akan kusimpan dalam satu sergapan bulu-bulu tebal di tubuhku. Harumnya merubah udara dingin pegunungan menjadi lebih hangat dari biasanya.

Namun ada yang mati, kali ini adalah kita berdua. Aku jatuh menabrak batu dan aku tidak mati sendiri; kau sudah aman dalam tubuhku ini. Aku akan melindungimu dari semua hal yang tak terduga.

Kita bersama tiada.

Iklan

Ingin Pergi


Aku ingin meninggalkan sisi-sisi keseluruhanmu. Rasanya tak adil bagi tubuhku sendiri. Kulitku habis dibebat jaring dari laba-laba yang mabuk di jiwa malammu. Bulan memang terang akhir-akhir ini, tapi ia membuat jaring itu lebih gila kuatnya, menyatakan pesan-pesan beracun yang sukar hilang.

Kini tubuhku hanya sebuah mangsa; dihancurkan oleh ketidakpedulian, seumpama kata-katamu yang sengaja tak diucap untuk membuatnya bertahan. Tak tahukah ia selama ini nelangsa?

Beruntungnya jiwaku tak sempat kau baca. Ia menyimpan banyak rahasia yang tubuhku tak akan bisa menyampaikan. Jiwaku persis seperti bocah yang malas pergi menemui gurunya. Tubuhnya memang berada di bangku itu; tapi jiwanya ada di taman, dengan anjingnya yang mengejar bola-bola berwarna.

Kau mungkin tidak mengerti. Semoga tidak akan pernah mengerti. Sebab aku hendak pergi tanpa bait-bait alasan sebagai pembenaranku sendiri. Aku tidak ingin benar. Aku sudah kepalang banyak salah; sebenar-benarnya aku tak akan merubah keputusanmu tentang siapa aku.

Aku ingin pergi. Biarlah tanpa tubuhku. Biarlah sendiri bermimpi.

Menemukanmu


Menemukanku dalam beragamnya mereka yang membuatku menajamkan segalanya, seperti picingan mata yang kagum, atau endusan mendalam akan feromon itu, adalah sesuatu yang tidak akan terjadi lagi. Aku memang tak pernah percaya takdir. Sebab hidup ini sudah begitu baik dengan kejutan-kejutannya tersendiri. Aku bisa mencintai yang lain, tetapi aku tersudut di ruangan itu; ruangan yang ada dirimu.

Bagiku adil-adil saja, entah kau sama cintanya sepertiku atau tidak. Aku tak ingin berlutut, apalagi mengobarkan api agar kau menjadi milikku. Sebab ketika kita bertemu, aku bisa tahu dalam sisiku sendiri, aku sudah jatuh, jatuh ke dalam waktu. Detik-detikku sendiri bergemuruh, namun terkadang mati. Siang dan malam serupa dekorasi alam sebab mataharinya adalah engkau saja. Utuh dalam ingatanku. Aku hanya bisa mengira-ngira, lewat kata, lewat tatapan, atau lewat caramu mempersiapkan diri bertemu denganku. Aku tahu kaupun cinta.

Sejalan dengan itu, aku mulai tahu bahwa kau dan aku dulunya sama-sama manusia yang sepi. Sebab kini, tubuh kita, jari kita, lidah kita mengerat satu sama lain sekuat mungkin agar sepi tak menjadi hantu lagi. Aku masih niscaya. Tapi ini menyiksa, sebab dalam musim-musim tertentu, malam nyatanya lebih panjang keberadaannya. Aku tak bisa merasakan terikmu; yang ada adalah dingin pilu.

Masihkah kau ada untukku, di kala malam mengembalikanku kepada sepi?
Apakah kau juga pernah bertanya bagaimana diriku menjalani segalanya bila itu tanpa dengan dirimu?

Mungkin sesekali aku perlu berlutut, membasuh kakimu yang kelelahan berdiri. Lalu ku ajak kau berbaring di padang rumput. Semilir anginnya akan meniadakan rindu dan kesah. Berbaringlah di dadaku. Tapi jangan jadikan perasaanmu sebagai peluru yang siap mengoyaknya. Aku mau menjadi yang kau mau. Ajarkanlah. Perdengarkanlah diriku kepada nyanyian-nyanyian yang sembunyi. Aku akan memahamimu, entah lewat mataku, atau elusan tak seberapa dari jariku di keningmu.

Batin


Dalam batinku menyala lampu; terang, seperti halnya siang. Tidak bertepi dan tidak berbatas, cahayanya menjangkau segala tepi. Di batinku juga ada dirimu berlarian. Tubuhmu menyendiri, terpisah dari perasaanmu terhadapku. Laba-laba, lumut dan air yang tua berbaur pada dinding-dinding rerelungnya.

Batinku juga seperti hutan tropis. Lembab dan terlalu banyak udara di dalamnya. Maka banyak sekali yang hidup disana. Aku tak kuasa mengawasi semuanya; tapi ia merasakan setiap makhluk, termasuk dirimu. Merasakan pada ketiadaan waktu itu. Dan dari beribu yang ada, tak tahukah bahwa aku selalu mencintaimu yang dewasa sekaligus kekanak-kanakan?

Batinku ini serupa hal yang tersesat di rencana-rencananya. Dalam bayangannya, semua itu tidak terlalu harus dipertentangkan, difikirkan, atau diselami. Rencananya hanya untuk memiliki semuanya, dan seperti orang gila aku akan khawatir sendiri, bahagia sendiri. Tapi tidak begitu saat ini. Ketika batinku menulis selembar surat pendek kepadaku; kau tak benar-benar mencintaiku. Mungkin juga batinku tak pernah berencana.

Cahaya yang menyala setidaknya agar kau tak buta. Agar kau melihat segala yang ada disana. Apakah mungkin cahaya itu tidak sampai menerangi perasaanmu?

Apakah bisa kubeli ia, yang menembus kepada keseluruhan?

(Candrasangkala)

 

 

Semat


Baju ini sudah lusuh akibat peperangan panjang. Darah dan keringat beradu menyebar bau. Lalu setelahnya ada panggung besar, dan namaku dipanggil.

Pak Kapten menyematkan logam di atas puting susu, dengan gambar burung perkasa atas simbol kemenangan.

Tapi raut mukaku palsu; aku membayangkan para ibu menyekarkan bunga di tanah-tanah itu. Anak mereka mati kubunuh. Dan para ayah menggali kubur untuk mayat-mayat anak lelakinya yang gugur. Kerjaku hanya menembaki. Ada dendam yang menyala dalam diriku kala itu. 

Semua ini demi kebebasan. Persetan dengan meja-meja hijau. Manusia tidak seluruhnya mampu berbicara secara halus, bukan. Politikus pergi dengan dialog yang tak selesai. Genderang perang dimulai, dan aku harus membawa dendam-dendam atasan.

Dan yang bahagia adalah mereka, bukan aku.

Aku akan menghabiskan waktuku mengingat hal-hal yang sedih. Tapi aku bisa apa. Aku ini seperti dinding keras yang melindungimu dari marabahaya. Aku harus berdiri, menjegal tirani. Tapi dinding punya dua sisi, dan dari keduanya aku melihat mereka sama-sama tak punya nurani.

Aku pergi ke sungai sehari setelah semuanya berakhir. Ada angsa mendekat. Ia menenggerkan lehernya pada tanganku yang gemetar. Logam bergambar burung itu hendak kubuang saja. Biar ia tenggelam di lumpur terdalam, dan tak akan pernah menyembul lagi.

Tidak boleh ada yang merasa berbangga diri atas kemenangan dari membunuh orang, jawab batinku.

(Mannheim, 2017)

 

Korea Utara


Malam ini rasanya menohok sekali. Rasa-rasanya angin tidak berniat menghangatkan dirinya sendiri. Aku berdiri dengan gigil yang hebat di bawah keremangan bulan yang jenaka. Lalu fikiranku tertahan di mata orang itu, mata yang telah berada di Korea Utara selama 17 tahun. Pada usianya yang belia, ia melarikan diri dari tirani yang gila.

Baginya dulu, pemimpin Korea Utara adalah Tuhan, sebab nabi tak cukup mulia untuk menggambarkan sosok itu. Dicatat dalam buku sejarahnya, ketika pemimpin mereka pergi menjelajahi gunung, maka pelangi akan muncul sebagai jembatan penyambung gunung-gunung untuknya melangkahkan kaki. Seperti cerita-cerita mukjizat lainnya yang tidak jauh berbeda.

Tertawalah. Tapi bagi anak-anak di Korea Utara, itu hal yang diimani, terlarang untuk mempertanyakan kebenarannya. Anak-anak disana diajari bahwa Tuhan tidak kasat mata, ia ada berbadan sempurna, tidak gemuk tidak kurus, dengan belahan rambut tebal yang berbentuk seperti roti-roti musim semi. Betapa mudah membodohi anak-anak. Mereka tidak akan bertanya dalam-dalam, bukan? Anak-anak dimana pun mencintai imaji. Maka disitulah kau meracuni.

Si belia itu kabur melewati bebukitan, mencari suaka, sampai ke tanah milik Cina. Tapi Cina adalah ibu tiri Korea Utara. Ia seperti tidak suka, tapi juga tidak begitu benci; maka polisi-polisi Cina digerakkan untuk menangkap orang-orang yang lari dari negeri yang berpemimpinkan si rambut roti musim semi. Dan kita tahu apa yang akan terjadi: eksekusi, hukuman mati, atau kerja paksa sehari-hari di bawah lorong gelap yang begitu dekat dengan sebuah akhir.

Dan kini, ia berdiri menangisi masa lalunya, sekaligus merindukan sisa-sisa kenangan yang tertinggal di dalam negeri itu. Ia tak merasa sebahagia ketika ia ada di tanahnya sendiri. Tapi toh ia ingin, barang sejam lagi, atau lusa hari, negeri itu bebas dari segala ilusi.

Tapi bagaimana mungkin? Akankah semudah menebak rasa garam? Ia yang disebut Tuhan tak bisa diganti dengan nama yang lain sekalipun sudah banyak tragedi dan elegi yang jelas ada.

Rindunya pada Korea Utara, sama seperti kerinduan burung terhadap alam yang terkunci di sangkarnya. Meskipun ia tahu, tak mungkin ia bisa pulang-pergi begitu saja.

(Mannheim, 2017)

Budakmu


Empat kakimu mendarat di dadaku. Bulu-bulu terurai, membekas di baju-baju berwarna. Matamu meredup sebab lelahnya hari sudah engkau lewati. Kau tak ingin aku membaca buku-buku yang berisi kesedihan dan kebahagiaan manusia. Mungkin kau ingin aku
membacamu; membaca alam dengan jemariku yang harus mengelusmu.

Lalu aku terpaku begitu saja, diam mendengar suara; hanya dengkuranmu saja yang begitu keras, mengalahkan suara sunyi malam.

Sebab dalam tidurmu, kau ingin tahu bahwa aku masih hidup denganmu. Naik turun nafasku
adalah bantalan mimpi.

Kita bertukar nafas. Oh, begitu amis bebauanmu. Kuhirup meski tak dalam.
Tapi kau tak harus pergi sebab kaupun harus membacaku; membaca cintaku, lalu melafalkannya baik-baik.

Dan pagi kau terbangun lagi, memukul-mukul tidurku, menyuruhku segera sadar diri.

Ah, kau. Mana bisa aku marah. Sebab mungkin aku ini, padamu, seperti hamba dari kerajaan kecilmu. Hamba dari suaramu yang khas. Hamba dari keegoisanmu.

Maka bergegaslah. Hiburlah dirimu lewat nyanyian burung-burung kecil di dahan-dahan tua. Sebelum kau kembali mengetuk-ngetuk kedamaianku lagi, sebelum kau menjatuhkan gelas-gelas di atas meja. Dan aku harus pergi menjalani hariku sendiri. Tapi sore nanti aku kembali; menjadi budak dari nyalimu yang berani.

-candrasangkala-

Lebah


Ada lebah yang ingin menyengat kulitku. Apa yang manis disini, tak ada, jawabku. Tapi ia mengitari tubuhku, mencium bau darah yang beku.

Aku bukan bunga. Tubuh ini seperti borok yang menganga. Dihajar waktu yang tak akan kembali antara aku dan tubuhnya.

Awal Musim


Mimpi dalam kewarasanku ini menampakkan diri sebagai bunga di awal musim semi; siapa yang tak bahagia akan warnanya? Ia menutupi memar diri dari musim dingin itu.

Sekilas semuanya baik-baik saja, sampai awan tebal berbalik arah, bermalas-malasan pergi.

Awal Mei yang tidak punya perasaan. Dingin kembali mengupas warna yang menyembunyikan memar-memar yang belum pudar.

Mimpiku kembali kepada tidurku, dingin dan senyap membumi.

(Awal Mei, Jerman 2017)

Atas ↑