Cari

Candrasangkala & Rarasekar

Menulis adalah menjadi abadi

Kabut


Kabut menyerang kotaku, hingga kabur sudah pandangan. Tak ada menara yang biasa ku pandang, atau matahari di bebukitan. Yang ada hanyalah putih; seperti orang-orang yang bergerak menjejali jalanan ibu kota, meneguhkan citra bahwa putih adalah suci dan mereka adalah sekumpulan manusia tanpa benci. Mungkin ia ingin menyucikan kotaku yang hina. Memendam dosa-dosa yang diperbuat oleh manusia-manusia di malam-malam yang dingin. Cumbuan, rayuan, harapan untuk tiada.

Kabut memang hanya sementara. Tapi kehadirannya rela menyeka air mataku yang tak selesai dengan ceritanya. Setiap pagi aku menangis, entah untuk keindahan matahari, atau teringat kenangan-kenangan perih. Jauh dari tanah lahir.

Aku memandang hidupku sebagai hal yang kiranya kirana. Hidupku elok, meski sering aku menemukan mimpi-mimpiku tersandung jalanan berbelok. Dan aku berdiri, dengan lumpur yang pekat untuk terus maju lagi. Aku tak banyak peduli tentang itu. Maksudku, hidup tanpa dosa adalah omong kosong. Tapi apa itu dosa?

Semalam, mungkin saja kelelawar mengunyah habis-habisan nyamuk yang malang, dan di cerita yang lain, nyamuk-nyamuk yang keji membunuh anak-anak manusia yang kecil. Mereka tak tahu semua itu, mereka hanya butuh. Kita tahu, itu menyakitkan, tapi itu terjadi. Kita tak lebih baik; dari kita membunuh, mencaci, memperkosa hak-hak mereka yang lain. Kita suka, dan tak tahu. Kita merasa butuh untuk itu. Mungkin untuk kepuasan belaka, atau percaya bahwa dengan membenci, kita malahan masuk surga.

Bagaimana ku jelaskan padamu bahwa kebencian itu ada. Kau tak bisa pergi ke tempat-tempat ibadah memohon ampun, sedangkan setelahnya masih ada rasa-rasa memisahkan diri dari yang lain. Aku tak pernah mengerti mengapa cinta, dalam hal ini, kalah oleh kotak-kotak apartheid yang kau ciptakan. Mengapa penyembah Kristus tak boleh menyentuhmu yang menyembah hal yang lain, sedang kalian saling cinta? Lalu kau kepadaku menggerutu, bahwa bukan kau yang membuat aturan itu.

Lalu siapa, kataku.

Lalu siapa, yang membiarkan tanah itu kering sampai kelaparan ada?

Lalu siapa, yang menumpahkan air bah yang banyak, menyapu kota?

Lalu siapa, yang menjanjikanmu lalapan api, sedangkan kau pernah sekali mencintainya?

Lalu siapa, yang membuatmu bahagia selama ini?

Kabut tiba. Nasibnya untuk menenangkanmu. Ia tak berkata-kata. Mana pedulinya. Dan setelahnya ia pergi, semuanya berjalan seperti biasa. Matahari, tanpa dosa, menyembul tanpa malu. Bunga-bunga sedih berguguran. Dan adalah kita disini masuk pada kotak-kotak pemisahan yang lain.

Semoga ada waktu kelak kita semua berbaur mesra.

(Candrasangkala, 2016)

Kota


Apa yang diinginkan orang-orang itu? Berkelana riuh memenuhi jalan-jalan yang dingin, terlebih di musim ini. Dengan jas yang kusut dan raut muka yang melelahkan, mereka mengantri kereta. Seharian sudah mereka dihabisi rutinitas. Aku berada di balik jendela apartemen memerhatikan lampu-lampu kota.

Hidup harus begitu rupanya. Mereka diperbudak oleh logikanya sendiri. Tentu kau tak bisa hidup seperti kucing rumahan, yang baginya hanya ada tiga waktu berharga; tidur, makan dan main. Tidak. Biarlah hal itu dimiliki si kucing manja; mereka lebih jelita daripadamu. Mereka lebih banyak diam daripada mulutmu.

Sesampainya di rumah, adakah mereka berpasangan dan mendapatkan kecupan? Ah, kurasa hanya beberapa saja. Selebihnya bosan ingin berpisah. Kapan ia mati, kata hati perempuan itu pada lelakinya. Tapi toh ia tersenyum. Berbasa-basi bahwa harinya baik-baik saja.

Laki-laki juga kerap bosan dengan perempuannya, maka 3 jam sebelum jam tidur, ia akan pamit pada istrinya, keluar mencari angin malam. Ah, pecundang. Bilang saja ingin memangsa kupu-kupu di taman-taman ria. Bukankah lebih mudah bagi pria berkuasa? Mudah saja bagi mereka. Istrinya tak akan memeriksa bau di balik celananya. Ia terlalu gemuk, bahkan sekedar untuk membukakan pintu.

Aku, dengan segelas anggur yang memabukkan, melihat seorang lelaki dengan anjingnya berjalan-jalan di sepanjang pinggiran sungai. Aku tersenyum, bagiku itu manis. Adakah yang lebih manusiawi ketimbang seorang laki-laki di tengah cuaca dingin begini mengajak anjingnya berjalan-jalan? Semoga ia tidak menggumuli anjingnya ketika ia gila.

Di kota inilah aku tak menemui sisi-sisi terang. Segalanya memungkinkan. Aku sendiri bahkan gila. Seringkali aku tiba-tiba ingin mabuk seberat-beratnya, ingin melupakan masalah yang keji, atau sekedar ingin tidur lebih cepat. Bayanganmu sering muncul dan itu menyiksaku.

Seringkali aku menggerutu.

Aku punya cinta, sama sepertimu. Tapi tubuhku tak berbicara banyak tentang itu. Aku pergi ke taman-taman ria.

Tapi adakalanya segalanya usai. Ketika cuaca menyesap energiku dan energimu, yang ada hanyalah cuaca yang menjadikan embun itu es-es yang menggantung di dahan-dahan pohon, menumpuk di mobil-mobil kita. Dan pagi, akan berulang. Seperti usia. Segalanya dimulai lagi, cinta, kesedihan, menuangkan diri menjadi cerita, direkam jejak-jejaknya oleh kota ini.

Dan nanti, kita hanya akan tiada.

(Candrasangkala, 2016)

 

 

 

Hilang


Ada yang hilang di pagi ini. Ia adalah sebuah rasa yang dulunya hangat terhadapmu.

Seringkali aku terbangun dengan imaji yang sedih, aku membuka mata dan mencari pesan-pesanmu, siapa tahu kau menyapaku ketika aku masih tertidur lewat aplikasi-aplikasi instan yang kita punya. Tapi memang tak pernah ada, yang ada adalah bekas percakapan kita semalam sebelumnya. Dan untuk pagi yang bahagia, aku yang harus memulai menyapa.

Dan aku tak berani. Sebab mungkin itu akan membuatmu bosan. Bosan membacaku yang tak berubah. Bosan dengan kata-kata pembuka yang tak bermakna. Adakah cara lain untukmu tahu bahwa pada setiap pagi itu aku mengingatmu? Aku tak menemukan cara lain, jadi aku menunggu. Menunggu dengan sedih sampai matahari tenggelam lagi. Tapi dalam diriku ada do’a, semoga harimu itu tak kelabu.

Malam tiba dan aku tergesa-gesa ingin menanyakan semuanya. Apakah kau bahagia dengan harimu? Kau bilang, tidak terlalu. Ah, do’aku tak didengar Tuhan, kataku. Dan aku bercerita tentang hariku. Aku katakan kepadamu bahwa aku baik-baik saja. Semoga kau tak tahu aku berbohong. Sekali lagi tak ada nyali untuk memberitahumu bahwa seharian itu aku ragu. Jiwaku dibelenggu rindu terhadapmu.

Semua itu berlalu dalam masa yang lama. Kita berubah menjadi sedikit agak tua. Tolol dengan cara merasa layaknya anak muda. Aku menjadi sinis, sebab aku terlatih ditiadakan. Kau percaya bahwa semuanya tak ada masalah. Semuanya berjalan baik antara kita berdua; tak ada perang ataupun curiga. Kau hanya tak tahu apa yang terjadi di sekelumit sel-sel otakku.

Aku serupa burung yang hijrah jauh dari musim yang dingin. Kusiapkan segala daya untuk mencapai tanah yang hangat, yang mungkin menerima kegelisahanku sebelumnya akibat diserang cuaca. Semua itu tak mudah dan aku butuh waktu. Tapi di persimpangan jalan aku merasa bahwa aku harus kembali. Kembali kepada kedinginanmu lagi.

Lalu aku mampir sejenak di belantara hutan rimba. Di sana ada segerombolan raksasa dengan senapan-senapan angin yang ingin mengulitiku. Aku sembunyi, dan mencuri sedikit demi sedikit roti dari mereka. Dayaku saat ini tak begitu banyak, maka aku mematuk dahan pohon tua untukku merebah sayap. Dan di sanalah aku saat ini berada.

Andai saja mudah, dan aku tak harus berniat melupakanmu. Aku tak suka dengan cara kita yang lama. Aku berusaha, percayalah. Aku yakin bahwa cinta tak perlu dibalas, tapi ego selalu menolaknya. Aku berusaha tapi tak akan ada waktu untuk kau tahu lebih tentang semua ini. Kau tak akan cukup mengerti.

Pagi ini, ada yang hilang, dan hal itu menyakitkan. Di antara kehangatan dahan tua, aku belajar tahu mana yang lebih membuatku bahagia; kembali kepadamu, atau bergerak ke tanah itu, yang akupun sama sekali belum tahu bagaimana.

(Candrasangkala, 2016)

Orang Pertama


Pertemuan kita dimulai pada sebuah cahaya pagi yang menyengatkan mata kita sendiri. Diantara bebatuan yang terhampar di terjalnya tebing gunung tua, aku dan kau berdiri. Aku datang dengan amat cinta, dan ku labuhkan saja kebisuan ini sampai kau bertanya mengapa aku tak bernyali menyapa.

Bibirku bisu, tak bisa mengenali ucap. Aku takut menjadi salah dalam situasi seperti itu. Kau adalah cinta pertama yang tak ku sangka akan mendera jiwaku dalam waktu yang lama. Mataku buta, dan seluruh bulu kuduk yang ada mencoba meresapi kebekuan itu. Tapi perasaanku ingin memelukmu dalam masa yang tak berdetik.

Kau sempatkan diri memandangku yang kaku. Aku malu tapi lebih seringnya tak tahu malu. Kecantikanmu seperti sebuah tempat yang jauh, dikerumuni oleh bintang-bintang dengan massa yang besar, menciptakan lubang hitam yang mematikan. Aku terbawa ke dalamnya dan susah kembali. Tapi kau tak tahu itu.

Tidak pernah dalam hidupku bahwa aku bisa merasa seperti itu, merasa ingin melindungimu dan berani bertaruh apapun. Ragaku, hanya cerminan dari kering kerontangnya tulang yang dibalut oleh merah daging tapi dayanya tak habis untuk terus menarikmu. Menarikmu sampai lupa kendali. Dan dayaku sendiri menghancurkanku di akhir cerita.

Kau banyak diam, mungkin mengkhidmati ketenangan. Tapi hatiku sangat gelisah, takut bahwa kau merasa tak ingin berada disitu denganku. Tapi kegelisahan itu tak sempat ku ceritakan. Aku hanya mampu memandang langit, padahal kau tahu, aku sebenarnya ingin menciummu dalam nafas yang menderu.

Aku telah mencintaimu semenjak itu. Ada ingin yang mengangin. Ada niat yang tersirat. Oh, kau. Ku peluk saja tanpa kata. Dan belaian lembut darimu membalas kesedihan kulit-kulitku yang sepi. Hadapkan parasmu padaku. Akan ku habisi segala cinta yang tersisa. Dan kita beradu resah seketika. Kita, dua remaja yang kerdil tentang rumitnya hidup, menikmati setiap detik tentang rasa ingin tahu. Kita banyak mencoba hal baru; hal yang tidak kita sebelumnya tahu. Adalah kau dan aku kemudian tak saling beku. Kita meledak seperti bom-bom tua yang lama terkubur. Aku tahu perasaanmu, dan kau tahu perasaanku. Kita saling bercanda, siapa yang lebih menggebu. Tentu aku, tentu aku.

Semua itu dilalui dengan keceriaan sampai pada akhirnya aku dan kau sama-sama tak saling suka. Kita mulai rindu dengan makna kebebasan. Aku tak habis dengan rasa cemburuku, begitu juga kau. Andai saja ada waktu untuk kita bertukar tubuh. Kau akan tahu bahwa kemanapun aku pergi, dengan siapapun aku berjalan, kau adalah imaji yang telah diserap olehnya. Tubuhku mengenangmu sepanjang waktu. Dan akupun perlu tahu, tubuhmu juga mengingatku.

Dan kita sekali lagi berada di tebing yang sama, namun kali ini kita disini untuk senja. Senja, selalu menceritakan tentang waktu yang hendak selesai. Kita bergenggaman, mungkin sudah lelah dengan terik sepanjang waktu.

Yang ku sesali adalah aku tak sungguh-sungguh menciptakan mimpi-mimpi mudaku. Aku tak melindungimu. Aku tak pernah membacamu dengan seluruh pemahaman. Aku tak berbuat baik.

Kita tak berhasil, tapi itu bukan salahmu. Aku yang sudah salah kaprah. Begitu banyak yang ku pelajari darimu. AKu belajar bahwa tak ada salahnya bersikap jujur. Itulah aku yang kini kau kenang. Aku tak akan menghabiskan waktu dalam berpura-pura. Aku telah mencintaimu dengan penuh arti, tapi sikapku banyak yang tak berarti.

Sementara kini, aku terdampar di musim gugur sendiri. Aku rindu menemuimu. Bukan untuk menyakiti atau mempersulit keadaan. Aku hanya rindu mengajakmu ke tebing, dan tak ada salahnya kita bertukar cerita tentang apa yang sudah dan akan kita lalui tanpa semua yang ada di masa lalu. Kau mungkin keberatan untuk itu. Tapi aku tahu, kau pun ingin waktu yang sama. Sementara musim akan berputar membawa kita pada kedinginan yang luar biasa, kita bisa kembali pada rasa bahagia. Kau dengan dunia kecilmu, aku dengan dunia tanpamu.

-Candrasangkala-

Pertemuan


Musim gugur tiba, daun-daun mulai menyepi sendiri. Jalanan menjadi sepi, orang-orang mulai muak pergi keluar, cuaca terlalu dingin. Aku mengempit dua buah roti kering yang ku beli untuk sarapan pagi. Di sepanjang jalan itu, aku terhanyut oleh kenangan-kenangan lalu; betapa sepanjang jalanan yang ku lalui ini telah menyimpan jejak-jejak yang absurd antara kita dulu. 

Aku terus berjalan melewati taman-taman kosong tanpa pengunjung. Warna daun-daun berubah satu sama lain, tapi fikirku tentangmu, tak. Mungkin aku harus dibasmi seribu musim yang menghancurkan, tapi tetap saja semua itu tak pernah menjadi nihil. Ada burung-burung yang bertengger meminta roti. Tak ku hiraukan.

Tak ada musik. Hanya ada semilir angin. Meski aku sangat merindukan denting tertinggi dari sebuah piano tua milikmu. Kau kerap memintaku berdansa pada lagu yang kau ciptakan sendiri. Aku berdansa menuruti, dan akhirnya yang ada adalah bayangan gelap tanpa wujud yang tak bisa ku serap lagi wanginya.

Aku tiba di rumahku. Ku siapkan dua piring untuk kita pagi ini. Aku belah tepian-tepian roti itu, aku tahu kau tak suka. Aku duduk di samping jendela, dengan malas aku mencicipi semuanya. Aku memejamkan mata, berharap kau segera ada. Dan semakin aku tenggelam pada waktu, kau tiba dengan senyum ramah, jemarimu menggenggam roti-roti itu. Tapi kau tak berbahasa. Aku resapi kesepian tentang dirimu.

Yang bisa ku lakukan adalah merasa. Merasa seolah kau terus ada.

Betapa memalukan! Sejauh ini waktu dan jarak telah berlalu, tapi perasaanku kepadamu seperti benalu. Ia terus menghabisi. Tak pernah merasa penuh terisi.

Mataku masih terpejam dan meresapi. Aku tiba di Surga, dimana aku bisa menemuimu. Aku berbasa-basi pada Tuhan agar aku bisa menjengukmu sesekali. Aku tahu, tak mungkin ada waktu untukku menghabiskan waktu disana; aku selalu berdosa kepada diriku sendiri yang susah lupa. Tapi Tuhan maha baik, maka aku boleh berkunjung sesekali sampai petir dan cahaya menjatuhkanku kembali ke Bumi, ke tempatku berdelusi.

Bidadari memandangku sengit, sebab aku tak membawa apa-apa disana. Do’a pun aku tak punya. Aku hanya ingin menemuimu, memberikan apa yang sudah kau tinggalkan di hidupku yang kelam. Aku tak sanggup. Dan kau harus percaya.

Aku memandangmu bahagia, airmata malu-malu jatuh tak bisa ku tahan. Dan kau tersenyum kecil melambai tangan. Aku berjalan, tapi seperti melayang. Aku tak pernah sampai. Aku membeku. Kau ucap, biarlah kau disana tak perlu mengerti. Aku pun tak pernah mengerti tentang rencana dan misteri. Kita tak sempat abadi. Kita terpisah sebab itu jalannya. Aku kepadamu hanya kesementaraan. Hidup memang sementara. 

Tak lama aku sudah ada disini, di meja tua dengan roti-roti yang tak habis.

Dan ku buka lagi mataku yang sedih. Piring itu masih tak terjamah. Helaan nafasku seperti berpura-pura. Aku seperti pura-pura hidup. Tapi aku juga seperti pura-pura mati. Matahari membuka tirai langit, dan aku seperti boleh bahagia kembali. Dengan lirih yang ada, aku berani bersumpah bahwa kau kepadaku adalah keabadiaan.

Sebab itulah, pertemuan denganmu tak bisa berlalu melewati batas waktu. Cukup sekali itu dan aku hancur karenanya.

-candrasangkala-

 

 

 

 

 

Do’a


Orang-orang berdo’a pada malam yang hening. Hingar-bingar keramaianpun dijauhi, dan mereka lebih memilih tempat yang dianggap suci. Sunyi dan sepi. Ada yang berdiri, ada yang duduk mengiba nyeri. Mulut-mulut itu komat-kamit, yang lain memejam mata tanpa terdengar suara; hanya nafas yang berjalan tenang dihirup hidungnya, membaur dengan kesedihan yang tak terlihat.

Aku tidak apa dengan ritual do’a. Tapi aku melihat ada yang aneh dengannya.

Mengapa do’a harus diatur adanya? Ketika kau hendak makan, ucapan do’anya sudah ditentukan berbeda-beda. Tuhan seolah haus bahasa. Tangan kita harus dipanjatkan. Tuhan seolah haus gerak tubuh engkau. Ketika aku bepergian, aku melihat di buku-buku panduan ada beragam do’a dari berbagai agama. Intinya satu, meminta keselamatan, tapi apabila kau seorang hindu, maka yang kau baca adalah do’a orang hindu. Tapi terkadang ku baca saja segala do’a dari semuanya; aku lah yang haus bahasa. Tentu saja aku hanya menguatkan diri agar moda yang ku tumpangi tak membuatku ketakutan setengah mati.

Berdo’a saja kita tak bebas, masih berbatas. Aku dulu terlalu kecil untuk menuruti para guru; anak-anak seusiaku menghafal ratusan do’a berbahasa arab, yang mana itu bukan bahasa ibu kami. Susah payah kami mengucap demi nilai hafalan yang sempurna. Aku berhadapan dengan temanku barang satu jam, ia mengujiku dan aku mengujinya. Lalu kini aku bertanya, apakah Tuhanku hanya mau mendengar bahasa tertentu? Tak bisakah IA mengerti kedipan mataku, tarian tubuhku, atau isyarat lainnya, seperti otot-ototku yang tegang sebab ketakutanku akan sesuatu? Tapi guruku tak mungkin memberiku nilai cukup apabila gaya berdo’aku sebatas kedip-kedipan, atau tari-tarian; ternyata guruku lah yang hanya mau aku berbahasa tertentu.

Pernah suatu waktu ada sebuah aliran yang melakukan ibadahnya dengan berbahasakan indonesia, lalu dikecam dan dibubarkan. Tentu saja bagiku itu tak apa. Tuhan mungkin mengerti lebih jauh dari apa yang mereka kira tentang pendapat Tuhan itu sendiri. Tapi pertanyaanku selanjutnya, sampaikah do’a itu kepada tujuan?

Atau barangkali do’a itu mewujud menjadi keyakinan dan tanpa kita fahami; kitalah yang menjadikannya terjadi.

-candrasangkala-

Sawah


Hijau daun padi menyalami mataku yang penat akan jauhnya perjalanan ini. Sebelumnya, kereta melaju cepat, melewati batas-batas kampung satu dengan yang lainnya. Tetiba ia berhenti, di tepian sawah-sawah yang sepi. Aku lekas membuka pintu meloncat pada sekumpulan kerikil penopang rel itu. Seketika itu aku merasa dicumbu. Alam memang seliar bayangan, sawah yang asri menghampar bertepi.

Langit sore itu menggenangkan warna-warna aneh. Jingga dan sisa-sisa biru ada di situ. Tetapi hijau bagiku akan selalu memukau, seperti engkau. Burung-burung kecil nakal mencuri padi, untung saja tak ada petani. Petani akan menggoyangkan orang-orangan sawah, dan burung-burung itu lalu lalang kewalahan. Andai burung-burung tahu bahwa itu palsu.

Seperti kita disini dibohongi. Aku bahkan tidak tahu lagi apakah kebenaran yang diyakini adalah kebenaran itu sendiri? Betapa mudah menanamkan ilusi pada otak-otak yang sebagian besarnya berimajinasi. Seperti begini; ketika aku berbicara denganmu, aku berbicara dengan akal sehatku, ku gunakan segala indera untuk mencerna dan memahamimu. Tetapi setelahnya engkau pergi dan aku seperti kecanduan, otakku mengimaji dirimu. Ku bayangkan segala hal baik dan buruk yang pernah atau kelak terjadi. Sebab ini sudah menjadi kenyataan bahwa kita lebih sering menjelajahi kemayaan – terlampau jauh dari kenyataan. Seperti burung yang dibodohi, kita membodohi diri sendiri.

“Sebagian dari kita tidak semuanya berakal sehat”, kataku. “Ceritakanlah olehmu tentang dongeng-dongeng ksatria yang bisa terbang dan hilang; ksatria yang hadir untuk merengkuh hak-hak orang malang. Mereka yang merasa tak aman jiwanya akan mencari perlindungan dengan meyakini keberadaan si ksatria”.

“Kau benar, tetapi mengapa kau anggap bahwa itu tidak sehat? Apa definisimu tentang sehat?”

“Sehat itu sebuah kerumitan. Bila memang alam berencana, pastilah ia menciptakan sayap untuk kita terbang, bukan sekedar membayangkan ada ksatria yang bisa segalanya. Dengan begitu ksatria itu adalah diri kita sendiri, bukan yang lain. Kita mengalami sesuatu sesuai dengan porsi indera yang ada. Apa yang ada pada tubuh kita ini sudah sempurna, sesuai dengan tugas otak itu sendiri”.

“Tapi apa itu sehat? Aku masih belum mengerti!”

“Apa yang kita rasa dan alami, adalah kenyataan. Bila kita memiliki imaji yang lebih, bahkan tentang keyakinan kita akan ksatria itu, maka biarlah ia menjadi mimpimu sendiri (orang-orang lebih familiar dengan istilah pengalaman spiritual). Kemayaanmu. Akupun memiliki segudang imaji. Tapi lihatlah olehmu, orang sepertiku dicocoki keyakinan yang sama. Aku dipaksa untuk mempercayai ksatria yang hidup di imaji mereka, bukan di imajiku. Padahal aku tahu, mereka ini brengsek dan tak tahu menahu tentang kebenaran si ksatria. Itulah yang menurutku mereka tidak sehat, atau tidak bermain sehat”.

“Kau seorang materialis. Jadi hanya apa yang bisa kau alami saja yang akan kau percayai, bukan begitu?”.

“Kira-kira begitulah. Tetapi sudah ku katakan kepadamu bahwa aku percaya mimpi; ia alamku yang lain dan aku tak harus membuat seluruh dunia mempercayai itu. Di mimpiku aku seperti burung camar, indah menyebar. Pantai menjadi kepulanganku dari berburu seharian”.

“Dalam mimpiku aku seorang peri”.

“Untukmu aku berani gila dengan mempercayai”.

“Kau begitu gombal. Aku belum selesai dengan ucapanku”.

“Mungkinkah kau masih percaya adanya ksatria itu?”.

“Tentu. Kau tidak?”.

“Entahlah. Sudah begitu lama hidupku disumpal hal begitu. Kau tahu, ketika aku hendak lari dari kepercayaanku, aku seperti disengat listrik. Rasanya susah sekali, sampai hendak bunuh diri”.

“Kau berlebihan”.

“Dan kau cantik sekali”.

Klakson kereta berbunyi, tanda perhentian usai, penumpang tergesa naik. Sementara padi-padi melambai ditampar angin semilir sore hari. Orang-orang di dalam kereta menatap kepada keteduhan yang ditawarkan sehalaman hijau ini. Aku menerka bahwa itu sebagai pelipur lara yang sembunyi. Hidup di kota besar serasa jauh dari kearifan. Segalanya seperti rekayasa; kau lihat saja mata mereka begitu berbusa-busa. Kodok-kodok berlarian, semut-semut merangkak masuk di lubang-lubang pematang. Aku seketika tenang.

-candrasangkala-

SHUMI


I
Kau indah dalam benak
Bahkan sampai kau disusui anak
Aku tahu kau sudah keluar
Dari jebakan-jebakanku yang dulu liar

II
Biarkan aku semengalir air
Jatuh jauh kepada genangan di hilir
Dan ku biarkan kau sesemarak awan
Yang sekali-kali berarak riuh menawan

III
Banyak yang berubah dariku
Hanya kau tak ku sempatkan tahu

IV
Aku sebahagia dirimu

V
Mengapa kau kepadaku
tak pernah bisa
untuk tidak cemburu?
Mengapa aku kepadamu
tak pernah bisa
untuk tidak memburu?

(Purwakarta, 2015)

-candrasangkala-

If I had a gay child


This has to be surprising for you that I write something far before you’re even born. I just wanna let you know that the world you’re going into is divided into two things: One is what can make you hurt, another one is what can make you feel respected as a normal human being. The first one is in outside there, probably our neighborhood, your school, our country or another country you visit for summer. They could be mean to you and you wonder why. These people just hate what they don’t understand at all. Most of them are under social and political dogma, even religions. Their brains are fulfilled passionately to oppose a person like you. Some of them might be more kind, they wouldn’t hurt you physically but they would ask you to evaluate “your choice” and return to the “normal way”. Some others wouldn’t care of you, they wouldn’t hurt you verbally nor physically, but they would never give a vote for your rights.

The second one is your home, here, with your mother and me. We’re here to protect and accept you how you are. You will see then when our cat protects her kittens from harms, such a cute life, isn’t it? And that’s how we’re going to do with you. Your home will be fulfilled with love, care and understanding. Mom and I would get angry with you sometimes but it will never be about your sexuality. When you grow up, please take your lover in your very first date to have a dinner with us. I can imagine how cute you are. There are also people who would support you even they’re coming from religious community or political parties. Many of them have opened their mind, anyway. So, don’t hate religious people in general, some of them are generous to you.

I’ve learned what Homosexual is. The biggest possibility is that homosexuals will always be born unpredictably by straight-parents. A child can be gay even born from straight parents, and a child can be straight even born from gay parents (gay couples can have their own child too, now). Nobody knows.

If you’re gay, no matter when you’d realize this, just tell me. Tell me everything about it, because I don’t want you to ever carry burdens about your sexuality. It hurts, I’ve been friends with those people who hide, and still, about it. I wanna make sure that your mom and I will protect you from harms, like the mother cat does. Some people around me could be mean to you, but you will have us, if you tell.

Do not ever be afraid; you have a father who will love you no matter who you are. A father that will be thankful for what you are. Just come out for I can’t see if you’re either homosexual or not. I would tell you something, here, in this moment, there are parents who disown their children for being gay. They choose to hate their own children because they want their children to be what society wants them to be. Those parents are losers, to me. I promise you I will never be one of them, neither your mom.

If you think God will hate you for being gay, I tell you that he doesn’t hate you. He’s out there as a transcendence; he can’t be described even by words. Being gay isn’t an illness because there’s no cure for that. Those who say it’s illness wouldn’t have any evidence. They’re just pretending that they know what they’re talking about. I have expectations from you, since I knew this would be a tough world for you to live in, that you would never hate those who hate you because you’re gay, just be kind to people and animals. (I’m silly to write my own expectations)

So, here I am supporting people who are born like you, because I know it’s possible that my future son or my daughter is gay, too. It would be really stupid for me to curse gay people and my child is then born as one of them, I would regret it the rest of my life. I never want to love any dogma and religion more than I love you. It’s not natural for me. So see you. Come as you really are.

-candrasangkala-

WordPress.com.

Atas ↑