Ambisi


Dalam maya kita bernyanyi tentang kematian. Wewangian dewa dan ambisi kita untuk memiliki satu sama lain; semua itu sudah tidak mungkin terjadi. Lalu akankah kita mati dengan mata terbuka? Atau kita bangkit dan menyesali hidup?

2010

-Candrasangkala-

Sebuah Sapa


Hanya sebuah sapa yang bisa membuatmu lega setelah lama tidak berkabar. Bertanyalah pada sekitaranmu yang dulu tentang hidup yang mereka lalui tanpamu. Tak usah malu dan sungkan — sebab sekedar bertanya, tak ada harga mahal yang harus kau bayar.

Yang harus kau bayar adalah kecuranganmu sendiri dan mengaku salah. Bahwa semua itu bukan maksudmu dan kau tak perlu menunggu mereka datang padamu. Tak perlu merasa seperti bunga yang diam. Ajarkanlah dirimu sebagaimana hujan yang mengguyur pelan menyisakan dingin-dinginnya.

Bukankah bila kedua darimu bunga, yang ada adalah gersang?

-Candrasangkala-

Denting


R,

betapa aku ingin menghirup bau nafasmu yang serupa allium sativum; ia menyengatkan getir dan angur sekaligus, mencecar memori-memoriku yang sebelumnya tenang. Orang bilang itu menjijikkan, tapi bagiku tidak. Aku tak butuh reaksi bubuk kokain untuk membuatku euphoria, dan merasakan betapa mengawang emosi perasaan. Seiris daging amigdala menebarkan kesenangan ketika aku menghirupnya, sekaligus ketidaktenangan jantungku.

Aku kerap mendekatkan wajahku kepadamu dan sebaris bibirmu terbuka mendesah. Kuraba keduanya dengan jari yang mencoba memecah teka-teki kata; apakah kau berdesah sebab kau suka?

Dan kau mengalihkan posisi muka, hidungmu menampar hidungku. Kau menjulur lidah, menggali kenangan-kenangan baru yang nantinya memuakkan. Lidahmu menangkap feromonku yang ragu-ragu. Ragu sebab aku tak seharusnya memberimu kesempatan meraup rahasiaku yang sebenarnya haus tentang dirimu.

Aku memang bukan binatang liar seperti yang kau bayangkan. Aku ini hanya serupa kelelawar yang menggantung menunggu bunyi-bunyian. Aku terbang mengikuti bebunyian itu dan seringnya lupa jalan pulang yang baru. Tapi kepada bunyimu aku tak melewatkan kesempatan. Sebagaimana denting yang hingar di telinga mengerang, aku memilih pulang dan tak memilih mangsa. Mangsaku adalah dirimu. Dan terjemahkanlah olehmu ini; akupun hanya sebatas mamalia yang mengembangkan sayap — kau boleh menyusu padaku, sebab aku rela menghabisi dahagamu.

-Candrasangkala-

Kala Itu


Kala itu, kita adalah sepasang peri kecil yang terbang sesuka hati. Sayapmu mencuri madu di mataku dan seketika aku jatuh dalam sebuah wadah yang kau namai cinta. Kita mulai mengenal pelangi, berlarilah kita ke bukit; menjangkaunya bila perlu. Dan tawa kecilmu menggetarkan seisi bumi, lebih-lebih hatiku kala itu.

Kita candai waktu pagi, kita lukai jiwa siang dan kita pulang kala malam. Ibumu melarangmu jauh-jauh pergi — ibuku menyuruhku berangkat ngaji dengan baju kumal yang lupa ia cuci kemarin. Aku kagum pada wangi tubuhmu setiap pagi dan kau benci wangi tubuhku kala siang. Dan kita tak tahu wangi tubuh antara kita kalau malam. Harumkah seperti melati yang tumbuh tak mengenal waktu dan tempat?

Kalau itu, kita beranjak dewasa; daun-daun yang lapar menyerap sari makanan. Akar-akar yang kering menunggu mati. Kita tahu, kita terlanjur jatuh cinta dan susah bangkit. Adakah sewaktu-waktu kita mau mengakhiri? Kita biarkan kala itu cinta mencari jalannya sendiri, mendewasakan mau kita. Hidupku bahagia, begitulah hidupmu berjalan pula. Kita tak lagi bermain pelangi, kita mulai membicarakan mimpi dan menerka-nerka apakah kita bisa bersama sampai tua dan menghabiskan sepanjang sore bersama cucu-cucu kita. Ah, semu. Tapi kita bicara dengan menggebu-gebu seolah harapan kita hanya tersudut di situ.

Seringkali kita berpisah dan kau tak mau mengalah. Kita berjanji saling meninggalkan. Tapi cinta seperti benalu di pohon-pohon cemara. Ia tak akan pernah ikut usang meski sang Tuan layu dan gersang. Namun kita kembali bersama seperti ombak yang tahu bahwa nasibnya hanya di laut tak berjarak.

Kalau itu, kita berikrar sehidup semati. Kau beri aku malaikat kecil dan aku membaginya dengan cinta yang luar biasa; seorang putri dari negeri mimpi datang menangis dan kita tertawa merasa bangga. Ia tumbuh dan mulai belajar melentikan jari pada kerut-kerut lelah wajahku yang menua. Ah, entah mengapa bagiku kau tak ada habisnya menjadi cantik. Cantik karena selama ini kita tak berpisah. Ikatan mati dari Tuhan yang maha cinta. Kita berbagi duka, seringnya suka. Kita sudah lewati masa-masa cinta yang menggebu, masa-masa cinta yang tak ada urung waktu. Sampai aku bertanya, apa yang terjadi bila aku tak memberimu hatiku, atau begitupun sebaliknya? Mungkin aku tak akan menyebut ini semua adalah bagian dari hidup; karena penderitaan yang akan ada, tak akan sanggup kulalui.

Kali ini, kita berdua bergenggaman tangan di usia senja dan duduk tenang menikmati sore yang gemerlap. Lelahkah matahari menemani hidup cinta kita dan malam menggantikannya dengan perpisahan? Kita tak bisa melawan waktu yang kejam; yang akan kusaksikan batu nisan bertuliskan namamu atau kau menangisi kuburku bersama malaikat-malaikatku.

Ataukah kita bisa mati dalam detik yang sama? Tapi bagaimana?

Perjalananku belum berakhir karena sampai waktu ini, di usia tuaku yang keji, aku masih seperti orang gila yang mau memelukmu kala tidur. Kau akan tetap menjadi cantik, cantik seperti bidadari. Kaulah bunga yang akan menjadi pengharum kuburku nanti. Dan aku pasrah pada Tuhan, karena bagiku hidup sudah sangat adil.

Karena aku bisa mencintai wanita sepertimu untuk waktu yang tak bisa kuingat.

-Candrasangkala-

Sebuah Perdebatan


Ah, kau berdebat panjang lebar tentang norma dan ia di sana menamparmu dengan bukti ilmiah;
kau menghadirkan kata — yang setiap zamannya bisa berubah, sedang ia memukulmu dengan fosil-fosil tua dan memperlihatkan padamu kromosom, kosmos, molekul yang membentuk hidupmu dan hidupku.

Kau bermula hidup bukan dari kata, Tuan.
Kau bermula hidup dari bisunya cinta
dan desah-desah tidak karuan.

(Pamanukan, 2015)

-Candrasangkala-

Bisu


Ada anaknya di ujung binasa, ia sunyi diam.
Ada rumahnya dibakar dosa, ia hening kelam.
Ada kekejian dan kesenangan, ia sepi mendendam.
Sekaligus tak bernyali membisu lugu
hanya sekedar
lewat kata di beribu tahun yang lalu,
ia berbisik begitu hingar bingar.

Nyatanya terpatri di dinding-dinding gua
abadi juga di khayal semua.

(Sukra – Indramayu, 2015)

-Candrasangkala-

Berjalan Bersamaku


Dan — bila angin membawamu ke samudera tak berujung; aku berlayar untukmu.

Dan — bila terik hanguskanmu, rendamkan seluruh hatimu kepada dingin yang membeku.

Dan — bila malam telah tiba, akan kutunggu labuhmu. Kaitkan sauhmu itu.

Dan — bawalah semua cintaku, jadikan olehmu pelipur lara hatimu.

Berjalanlah bersamaku menyusuri pantai itu hingga senja berlalu..

Berjalanlah bersamaku; kau tak perlu ragu lagi, aku di sini tuk melindungi.

-candrasagkala-

Kelabu


R,

malam ini hujan merambat ke hutan-hutan yang haus air. Kurasa akar-akarnya tak akan buang waktu! Mereka menyerap segala yang datang darinya.

Aku bernasib seperti hutan itu — aku tak butuh biru, tak apa langit kelabu. Aku butuh kamu sebab kamu ini serupa candu yang membuatku menggebu.

-Candrasangkala-

Pati Obong


Nawa,

BETAPA DUNIA INI PERNAH TIDAK ADIL TERHADAP PEREMPUAN.

Kau tahu perihal Pati Obong? Ia serupa keluhuran nilai dari apa yang kita sebut patriarki, terlepas dari agama apa ia diperkenalkan. Ritual ini bertujuan agar wanita tidak menjadi tawanan musuh dan diperkosa ramai-ramai oleh prajurit yang menang. Nama lain dari ini adalah Sati, yakni membakar diri sendiri bersamaan dengan mayat suamimu, yang dalam peperangan itu mati.

Sebegitu terhormatnya sampai kematian diri adalah harga yang harus dibeli perempuan sepertimu. Kala itu, raja Tawang Alun II memiliki empat ratus istri yang ia tinggalkan pasca kematiannya. Dua ratus tujuh puluh darinya dibakar bersamaan dengan sang raja. Aku membayangkannya ngeri sendiri. Tapi kengerianku tidak berhenti di ritual Sati.

Kengerianku ada mengganjal di sini; ketika poligami disuarakan lagi gemanya, lewat seminar-seminar dan diskusi, menawarkan janji-janji surga bagi mereka yang mau menjadi selir. Rasa cemburu itu mesti ditundukkan, yang mungkin semembara punyaku, sebab perasaan cemburu akan menutup pintu surgamu. Tapi dalam poligami, laki-laki kerap beruntung sebab ia punya banyak daging yang ia bisa jilati. Sedangkan perempuan harus berbagi satu batang kayu untuk menanak nasi. Kau percaya kau akan masuk surga dengan berbagi, sedang yang laki-laki percaya dengan membagi? 

Itukah alasan kita mengoret itil-itil bayi, agar perempuan kelak tidak sebegitu horni? 

Dalam budaya kita yang kita puja, kau harus dibeli dari walimu, meski dengan seucap kata. Kau adalah sebuah komoditas, yang dilabeli di bungkus-bungkusnya tanggal kadaluarsa; usiamu lebih dari tiga puluh, segala darimu akan layu dan kau menjelma menjadi perawan tua. Orang tidak akan senang melihatmu sendiri. Mereka tidak pernah senang dengan kenikmatan menyendiri — seperti onani.

Lalu berapa harga untuk menikahimu? Bagaimana bila aku enggan memaharimu dengan cara begitu? 

Pergilah kepada pelukku, bagiku engkau setara denganku.

Ini yang lebih menyakitkan; perempuan-perempuan di India rela menghabisi rahimnya demi sebuah pekerjaan, agar ia tidak hamil dan menstruasi. Aku kerap berfikir, apa beda darah haid dan dahak yang aku buang di kala pagi? Segalanya hanya berupa cairan, tanpa harus diperlakukan dengan perasaan jijik. Tapi di Afrika, orang haid dikucilkan di sebuah pulau sendiri. 

Lalu bagaimana nasib orang haid di ritual-ritual suci? Aku rasa mereka dikesampingkan pula kedudukannya. Bukankah begitu? Penari-penari Bedhaya Ketawang harus perempuan suci dan sedang tidak haid? Ya, Nawasanga yang harus menjaga diri. 

Tapi ada yang lucu di sini. Orang-orang berdebat tentang sebuah peran dan pertanyaan; patriarki ini lebih baik dari patriarki itu. Patriarki ini lebih modern dari patriarki sebelah. Aku tertawa. 

Bukankah kita ini mamalia? Mengapa memperdebatkan hal-hal alamiah seperti ini? Apa sebab orang dulu tak punya jawaban mengapa dan bagaimana? Tapi ini menarik — mengapa pria punya puting susu tapi tidak menyusui? Mengapa puting susuku sensitif dan punya temanku tidak? Mengapa puting susumu dikembeni? Mengapa haid? Mengapa darah? Mengapa mandul lalu diceraikan?

Nawa, aku lelah. Aku menyerah pada sebuah tanya; apakah di surga nanti, kau bisa haid?

-Candrasangkala-