Maneges


Aku lari ke hutan pada satu sore seusai gerimis. Suara burung-burung gaduh menyambut gelap, menyiksa gendang telingaku yang siaga. Bisik-bisik hewan liar, lumut-lumut yang lembab, daun-daun yang jengah, tunduk semua kepada cuaca. Kala itu sepi, dan aku di sana duduk sendiri. Celah-celah daun menyisakan cahaya, menyorot kepada mukaku yang letih. Perdu-perdu yang berantakan; serupa batin…

Desir


..dan desir angin tibamemeluk diri inigelisah yang tak pernah usaiwarna dirikupun pudar ..dan sunyi itu rimbameringkus diri iniamarah yang tak pernah padamhidup itu bisa sekejap mata berlalu riak airhening gunungderas ombak menghampirimusim purbaawan birudesir angin melengkapi ..dan ramai itu adamendamai diri inibersama mengkhidmati inihidup itu bisa seindah surga –candrasangkala–

Getas


Sempatkan waktumu menyelami kegelisahan yang menghabisiku Setiap kali hujan luruhkan nyaliku sembunyi dari resah mencintaimu Hempaskan getirmu kuberdiri bersamamu dan rinduku yang getas kepadamu tak pernah tuntas candrasangkala

Sejarah


Hai. Apa kabarmu bertahun ini, Candra? Sejujurnya aku rindu minum teh bersamamu sambil berbicara hal-hal di luar diri kita. Tentang perang di negara yang jauh di sana, tentang banjir di kota besar, tentang terumbu karang yang retak, tentang wabah yang membuat ngilu, tentang sejarah yang terluka dan hal-hal yang tak selalu mampu kita ingat karena…

Angin Lembut


Cuaca sangat kelam hari ini. Dinginnya tak karuan, nafas kita mengepul tak berdaya di jalanan yang sepi. R, aku bahagia sekali bisa berjalan dengamu setelah sekian lama tidak bertemu. Lihatlah tubuhmu, senyummu, kepalamu dan bulu-bulu halus yang bereaksi terhadap suhu. Kau dan aku menuju peron kereta, kali ini aku akan membawamu ke gunung Wank dan…

Singgih


Namaku Singgih. Sudah lama aku lari dari imanku sendiri. Mereka menyebutku si kafir. Keluargaku tak tahu menahu, sebab ini terlalu politis. Sudah lama aku tak percaya konstitusi negara yang menjamin warganya bebas memilih keyakinan. Faktanya, konstitusi hanya bersifat tertulis belaka, tak pernah diamalkan warganya sendiri. Seperti halnya syarat dan ketentuan di setiap produk yang kita…

Sunyi itu


Paras, tentu saja kamu tak bisa memilih dari ibu mana kamu harus terlahir. Tak ada yang mempertanyakannya sama sekali, sebab jawaban hanya akan menghentikan ritme nafas. Aku faham tentang kemarahan dan rasa cemburumu kepada hidup. Kamu ini dulu sangat relijius, selalu menggebu-gebu menceramahiku. Rasanya, kedekatan kita dulu itu seperti denting-denting dari bambu di sunyi malam…

Surat dari Paras


Hidup adalah sebuah nyeri yang mengernyitkan alis-alis halusmu, mengendap beban-beban malu di serabut sel-sel tua, diubahnya menjadi sebuah kepercayaan yang maya bahwa ia adalah takdir kita sendiri. Hidup adalah sebuah nyeri, bukan anugerah. Ia serupa hadiah yang tak pernah kita duga. Nyeri, sebab kita tak punya jawaban atas sebuah kesadaran; dari jutaan sel yang berkejaran…

Perempuan


Nawa, suratmu sudah kubaca dalam-dalam. Menarik sekali mengikuti alur fikirmu tentang kebebasan yang kau pertentangkan. Aku tahu, tak seharusnya aku marah terhadap para bajingan yang pada ujungnya aku sendiri merasa salah satu dari mereka. Poligami adalah sebuah ide liar orang-orang terdahulu. Sejarah dari masa ke masa memang banyak berubah; perempuan pada masa itu tak banyak…

Jawaban Merah


Candra, aku bukan orang yang tepat membahas mengenai kebrutalan partai merah dan segala peperangan yang berkecamuk di bumi ini. Kenyataannya hidup kita tak sekelam sejarah, bukan? Ketika pagi, aku masih menemukan apa yang kubutuhkan. Pedagang sayur mayur masih menjual sayuran yang segar. Kopi hitam masih banyak dijual di pasar tumpah. Orang-orang di sini sebegitu menikmati…